Konservasi Elang Bondol di Pulau Kotok

Elang adalah hewan predator, dimana dalam rantai makanan menempati posisi puncak (top predator) yang berfungsi untuk mengendalikan jumlah mangsanya. Dan karena elang peka terhadap perubahan, maka ia juga menjadi indikator lingkungan atau pun suatu kawasan.

Oleh karenanya, perubahan sekecil apapun di suatu kawasan yang terdapat burung elang, juga akan berdampak pada populasi elang tersebut. Perubahan itu bisa berupa pencemaran lingkungan, alih fungsi kawasan yang tidak memperhatikan keseimbangan alam, serta perubahan lainnya. Ancaman terhadap populasi Elang Bondol, baik di Pulau Kotok Kepulauan Seribu maupun di wilayah lain di Indonesia hampir sama, yaitu hilangnya habitat, perburuan liar, perdagangan, dan lain-lain.

Elang Bondol di Pulau Kotok

 

Elang Bondol di Pulau Kotok

Pulau Kotok hanyalah satu pulau kecil saja yang berada di utara wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Dari pantai Ancol Jakarta Utara, jika cuaca cerah, perlu waktu sekitar 75 menit untuk mencapainya. Di pulau inilah, terdapat Pusat Konservasi & Rehabilitasi Elang Bondol yang dikelola oleh Jakarta Animal Aid Network (JAAN).

Kegiatan konservasi ini berawal dari penggagalan penyelundupan delapan ekor Elang Bondol di Bandara Soekarno Hatta Jakarta pada 2004. Hasil sitaan tersebut kemudian dititipkan ke Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur (PPSTA) Jakarta. Selanjutnya PPSTA menginisiasikan program untuk menyelamatkan dan merehabilitasi hewan tersebut di Taman Nasional Kepulauan Seribu, bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (BTNKpS) yang diresmikan Menteri Kehutanan MS Kaban pada 8 Agustus 2005.

Seiring perjalanan waktu, sesuai dengan regulasi, upaya penyelamatan tersebut dikelola oleh Jakarta Animal Aid Network (JAAN) selaku LSM yang bergerak dalam konservasi dan rehabilitasi berbagai hewan yang terancam kepunahan, tentu tetap bekerja sama dengan BTNKpS.

Elang yang direhabilitasi di Pulau Kotok merupakan hasil sitaan maupun hasil dari penyerahan masyarakat yang sadar ancaman kepunahan yang mengintai hewan ini. Sebenarnya bukan hanya Elang Bondol, tetapi ada empat jenis elang yang ‘disekolahkan’ untuk menjadi liar di sana. Tiga jenis elang lainnya adalah Elang Kepala Abu, Elang Laut, dan Elang Tiram

Penyelamatan Elang Bondol dan jenis elang air lainnya, tidak hanya fokus pada elangnya saja, tetapi juga kepada habitatnya. Artinya, pelestarian alam membutuhkan peranan yang bisa memakan waktu lama, diperlukan untuk mengembalikan insting liar mereka sebagai hewan predator. Dengan proses rehabilitas ini, elang-elang tersebut dipersiapkan kembali mentalnya untuk menjadi liar agar bisa kembali ke alam bebas.

Untuk memantau pergerakan elang-elang bondol yang telah dilepas, Jakarta Animal Aid Network (JAAN) memasang beberapa peralatan mini untuk memantau para elang, misalnya microchip, ring di kaki elang, dan wing marker, sebagai penanda dan untuk mempermudah masa monitoring pasca pelepasliaran mereka.

Hasilnya, sejak 2005 sampai dengan saat ini, Pusat Konservasi dan Rehabilitasi Elang Bondol telah merehabilitasi sekitar 100 ekor Elang Bondol dan Elang Laut, serta berhasil melepasliarkan sekitar 70 ekor dua jenis elang tersebut ke alam bebas di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Harapannya, tentu mengembalikan dan mengembangkan populasi elang yang ada.

Sejak awal, Jakarta Animal Aid Network (JAAN) mencoba mandiri dalam melakukan proses rehabilitasi hingga pelepasliaran hewan yang menjadi maskot DKI Jakarta ini. Dana yang dibutuhkan memang tidak sedikit. Karena itu, Pertamina dengan program CSR-nya peduli pada kegiatan konservasi dan rehabilitasi Elang Bondol memberi bantuan berupa sarana dan fasilitas, yaitu penggantian kandang. Dari semula kandang bambu yang cepat rusak, diganti menjadi kandang besi galvanis yang permanen dan antikarat.

Selain itu Pertamina juga membantu pembangunan clinic center untuk memastikan perkembangan Elang Bondol serta membantu pembangunan information center agar pusat konservasi dan rehabilitasi tersebut bisa diakses lebih luas lagi. Pertamina berharap Pulau Kotok dan sekitarnya dapat menjadi pusat konservasi khusus, yang bermanfaat untuk elang-elang laut tersebut, serta membawa kesejahteraan bagi masyarakat Kepulauan Seribu.

 

Selamatkan Elang Bondol Di Kepulauan Seribu – Literasi Lingkungan