Budaya

Belajar dari India Tentang Otak Moncer

Dikritik karena pemerintah terus menerus membiarkan banyak warga India pergi ke luar negeri dan menjadi aset hebat bagi negara tujuannya, Rajiv Gandhi, mantan PM India, berkata: “better brain drain, than brain in the drain” (lebih baik menjadi penyalur otak moncer/cemerlang, daripada membiarkan mereka dalam saluran).

Tidak sia-sia, meskipun secara makro, India masih bangsa berkembang, namun kebijakan tersebut justru mengantarkan India menjadi salah satu bangsa yang paling banyak menelurkan diaspora sukses di dunia, India kini bahkan diyakini beranjak menjadi penyeimbang kekuatan dari Asia.

Otak Moncer Dari India
Searah jarum jam dari kiri atas: Bhimrao Ambedkar, Swaminathan, Anant Mashelkar, Narendhra Jadhav, dan Abdul Kalam

Memang the talent’s brain drain adalah salah satu tantangan bangsa berkembang pada umumnya. Merasakan hidup yang teramat keras di negara asal, merasa tidak dihargai kapabilitasnya sebagai ahli, tak jarang membuat orang dari negara berkembang memilih pergi merantau ke negara maju. Di saat yang sama, negara maju pun memiliki demand yang tinggi terhadap sumber daya manusia berkualitas mengingat mereka dihadapkan pada situasi penuaan populasi (ageing population).

Namun memang benar, investasi sumber daya manusia itu kadang tidak bisa terukur jelas keuntungannya. Oleh karena sulitnya melakukan evaluasi, tak jarang sulit pula menanamkan modal membangun kapasitas manusia melalui investasi pendidikan dan memberikan pengalaman hidup.

Akan tetapi, sejenak melihat dan belajar mengenai Rajiv Gandhi, mantan PM India, siapakah dia sesungguhnya? Sungguh tidak ada relasinya dengan tokoh pendiri India, Mahatma Gandhi, Rajiv adalah cucu dari Jawaharlal Nehru, mantan PM India pada era kemerdekaan negara tersebut. Namun, beruntung Rajiv merupakan putra bangsawan, yang berkesempatan mengenyam pendidikan di Trinity College, Cambridge, sama dengan sang kakeknya, Jawaharlal Nehru. Hanya saja, sedikit berbeda dengan sang ibu, Indira Gandhi yang merupakan cetakan Oxford. Memang, di tahun-tahun tersebut, banyak warga India pergi merantau ke luar negeri.

Lantas, apakah hanya dari kalangan bangsawan saja? Tidak, sejarah dan fakta secara jelas menunjukkan bahwa budaya India konservatif sesungguhnya masih kental dengan sistem kasta, yang mana mereka yang berasal dari kasta biasa bahkan kasta bawah dan terbuang mendapatkan perlakuan yang tidak adil dalam memperoleh hak hidup seperti pendidikan. Terlebih lagi, faktor SARA juga menjadi ganjalan di India. Dari situlah akhirnya para kaum tidak terpandang tersebut bertekad untuk maju dan nekad pergi merantau ke negeri asing untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Dari kaum tersebut di antaranya adalah Bhimrao Ambedkar, doktor lulusan London School of Economics (LSE) (Menteri Perburuhan India), Sambasvian Swaminathan (lulusan Wisconsin Madison, pencetus Green Revoluon India), Amarthya Sen (Profesor ekonomi Harvard), J.P. Abdul Kalam (ahli rudal dan sistem pertahanan, presiden India), Anant Mashelkar (direktur CSIR India), ekonom Narendhra Jadhav (pimpinan Reserve Bank of India, lulusan University of Indiana), dan banyak lagi.

Selain itu, tak terelakkan juga bahwa generasi muda India saat ini banyak memegang peranan penting di berbagai perusahaan global. Tercatat setidaknya 14 CEO atau pejabat teras setingkat direktur dari berbagai macam perusahaan global berasal dari India. Indra Nooyi memimpin Pepsi Co., Satya Nadella mengepalai Microso, Anjay Banga di Master Card. Begitu pun halnya Direktur Pemasaran Facebook, Kirthiga Reddy merupakan orang India.

Terdapat kecaman dari para pengamat dan pekerja berbagai kalangan yang menunjukkan ketidaksetujuannya kala Sobank, salah satu provider telepon seluler asal Jepang, melakukan keputusan drastis dengan merekrut seorang India bernama Nikesh Arora sebagai direkturnya. Siapa Nikesh Arora? Sebelumnya, ia adalah Senior Vice President Google Inc dan untuk mendapatkan tanda tangannya, Sobank sampai harus mengganjar 16 miliar Yen (setara 1.6 triliun Rupiah), suatu hal yang secara keras diprotes oleh golongan pekerja Jepang sebagai suatu bentuk penghamburan uang dan pelanggaran tradisi kerja berjenjang.

Lalu, sekarang pertanyaan untuk kita semua adalah, apakah ada post-doc atau bahkan professor asal India di tempat kita saat ini menempuh pendidikan? Jikalau tidak banyak, tapi sepertinya pas ada, dan dalam pemikiran sederhana saya, bila seseorang mendapatkan kesempatan post-doc, sudah barang tentu Ia bukanlah orang sembarangan.

The era of gaining (back) the brain

Dalam bukunya, New Asian Hemisphere: The Irresistible Shift of Global Power to the East, professor kebijakan publik asal Singapura berdarah India, Kishore Mahbubani, dari Naonal University of Singapore, menjelaskan bahwa kendati India ditinggalkan para otak moncernya dalam wujud brain drain, namun India juga terus berjuang membangun. Hebatnya adalah konekvitas antara para tokoh India di luar dan dalam negeri yang masih terhubung erat dan saling mendukung, bahkan saat ini, meskipun secara mikro tidak serta merta seragam, India diyakini akan segera memasuki the era of gaining (back) the brain.

Sebagai control riil, dalam helatan PPI Dunia 2014 di Tokyo, seorang rekan Indonesia yang kini bersekolah di India, mengatakan bagaimana kampus-kampus di India kini dikawal oleh profesor-profesor lulusan barat, sebutlah Harvard, Cambridge, dan lain sebagainya, dan menemui mereka tidaklah sulit karena hampir seluruh waktunya ada di kampus dan memang difokuskan untuk membangun dan mendidik mahasiswa-mahasiswa India. Secara terpisah, seorang teman asal India juga menjelaskan bagaimana baru-baru ini pemerintah menggulirkan skema beasiswa besar-besaran untuk menempuh pendidikan pascasarjana di kampus-kampus India tersebut.

Dalam bukunya lagi, Mahbubani menjelaskan, bukan MIT atau Harvard, kampus dengan peluang masuk terkompetif di dunia, melainkan IIT (Indian Instute of Technology) yang terdiri dari 5 kampus tersebar di India. Apa pasal? Di tahun 2002, ketika Harvard dan MIT meloloskan 10.5% dan 16.2% dari keseluruhan pelamarnya, hanya 2.3% pelamar yang berhasil dan diijinkan masuk ke IIT. Tak pelak, merekalah juga yang diyakini nantinya akan dibajak oleh perusahaan kelas dunia, namun kendati demikian setengah kaki mereka berdiri di tanah kelahirannya, India.

Studi kasus dari India tersebut selayaknya menjadi bahan evaluasi bagaimana investasi manusia memang tidak mudah, tidak murah, dan tidak sebentar, namun jika berhasil pas memiliki dampak yang besar dan berkali-kali lipat. Fakta dari India ini pun menunjukkan pada kita, bahwa pada dasarnya tidak bisa suatu negara lepas landas hanya dengan investasi tunggal mendidik manusia ke luar negeri tanpa pembangunan sendiri dan penguatan konektivitas dengan pembangunan dalam negeri.

Berkaca pada Indonesia, di era sekarang ini, Indonesia pun sedang gencar-gencarnya melepas putra-putrinya untuk mengenyam pendidikan di luar negeri guna menanamkan investasi menghadapi potensi bonus demografi. Kenda tidak sedikit pandangan negatif mengemuka, mulai dari yang mengkritisi kebijakan terlambat, hambur anggaran, hingga menyangsikan seberapa ampuh kebijakan investasi manusia ini, namun sekali lagi harus bijak kita menyikapi hal ini.

Telah disebutkan sebelumnya, penting menghapus keraguan atas suatu investasi yang sulit dinilai ini, namun sebagaimana India, investasi manusia tersebut tidak lantas cukup tanpa menggiatkan pembangunan sendiri dan menghidupkan konektivitas. Celoteh seorang kawan mahasiswa Indonesia di Jepang (yang memang saya salut atas prestasinya) pernah membuat saya mengernyitkan kening, “Jika Indonesia mampu membiayai pengiriman manusia berotak moncer ke luar negeri tapi tidak mampu membiayai fasilitas penelitian dan pendidikan tinggi dalam negeri, berarti mungkin memang benar orang pintar di Indonesia tidak dihargai”.

Entahlah bagaimana cara yang tepat untuk menanggapi dan menyikapi hal tersebut, akan tetapi, jika tantangan tersebut dapat dipecahkan, jika semua elemen negeri ini memang ingin maju demi bangsanya, maka the talent’s brain drain itu cepat atau lambat akan segera menjadi tiang-tiang pancang masa depan Indonesia.

Sumber: Mata Garuda Institute Oleh Naufal Rospriandana, S.T. Graduate School of Environmental Science Hokkaido University, Japan.

 

Belajar dari India Tentang Otak Moncer – Literasi Publik

Ikut mencerdaskan masyarakat dengan bacaan dan tulisan online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *