Budaya

Membuka Diri Kepada Seni Rupa

Edmond de Goncourt (1822 – 1896), seorang sastrawan Prancis, juga kritikus seni melontarkan kalimat, “Sebuah lukisan di museum mendengar lebih banyak pendapat menggelikan dibanding apapun di dunia ini.” Di abad 19 itu, agaknya Edmond sering mendengar betapa beragamnya komentar tentang sebuah karya seni. Maka muncullah lelucon tadi.

Sering pula terdengar berbagai komentar dari teman-teman yang “awam”. Cukuplah disimpulkan: mereka bingung, apa yang begitu heboh dengan tumpukan cat yang dikurung dalam bingkai kayu. Sudah begitu, kok harganya bisa selangit.

Membuka Diri Kepada Seni Rupa
Lukisan Peter Gabriel (kanan) dan Miles Davies (tengah) karya Agus Suwage yang dipamerkan di Nadi Galery

 

Membuka Diri Kepada Seni Rupa

Sebenarnya, di kurikulum pendidikan standar kita, dari sekolah dasar hingga menengah atas, ada mata pelajaran seni rupa. Di tingkat dasar, pelajaran cukup menyenangkan: menggambar, melukis dengan beberapa pengenalan teknik. Di tingkat atas, mata pelajaran ini berubah menjadi hafalan. Murid menghafal tahun-tahun, nama-nama, juga perbedaan antar aliran seni rupa. Di ujian, hal-hal seperti itu ditanyakan tertulis.

Yang berbakat menggambar, melukis, mungkin lalu memilih melanjutkan pendidikan ke tempat yang tepat untuk itu. Tapi mereka yang “divonis” tak berbakat, lalu melanjutkan ke dunia yang lain. Segala hafalan, eh, pelajaran tentang seni terlupakan. Mereka menjadi muggle (meminjam istilah J.K. Rowling untuk manusia biasa yang tak paham dunia sihir Harry Potter).

Para muggle seni rupa ini, agaknya, hanyalah korban dari pendidikan yang berat sebelah. Sekolah-sekolah unggulan mengutamakan pendidikan matematis Produknya adalah manusia-manusia yang enggan mengenal seni rupa.

Tapi, untungnya, manusia dilahirkan dengan indra artistik masing-masing. “Nafsu” seni laten bercokol, dan menuntut pemuasan. Maka, para muggle ini menyalurkannya dengan mendengar musik pop, menonton film di bioskop, hingga membaca komik. Hidup konsumtif kita sehari-hari pun disusupi unsur-unsur seni yang bersembunyi di balik warna, bentuk dan fungsi berbagai produk.

Siapa pun bisa selalu kembali membuka diri terhadap seni rupa. Awalnya adalah keinginan untuk memberi apresiasi, yang mesti direalisasikan dengan mengangkat kaki ke museum atau galeri-galeri.

Di Jakarta ini misalnya, banyak sekali galeri yang rutin menggelar pameran lukisan. Beberapa pameran hadir dengan tema yang “sulit”. Tapi banyak pula yang cocok didatangi penikmat yang lebih umum.

Penikmat dan Kolektor Seni Rupa

Menurut kurator independen Jim Supangkat, butuh proses panjang untuk menikmati karya seni. Sense estetika tak hanya menyangkut pemahaman rupa. Ketika seorang melihat karya seni, menggali isinya, dibutuhkan kepekaan dan pengetahuan yang tidak secara alami muncul. Maka, “Sebuah karya berbobot tak serta merta memukau semua orang,” kata Jim.

Nah, mereka yang sudah terberkati dengan indra estetika pun masih berdebat soal bagaimana menilai karya. Jim, setelah 30 tahun berkecimpung dalam dunia seni rupa, sampai pada kesimpulan tentang dua aspek. Yaitu muatan: hasil perkembangan artistik secara rupa, dan bobot: kadar perenungannya. Kelihaian teknis dan pesan filosofis.

Selain “penonton” lukisan, ada pula para kolektor. Pemilik Emmitan Fine Art Gallery, Surabaya, Hendro Tan, termasuk penikmat seni sudah melanglang buana ke berbagai galeri dunia. Dalam sebuah perbincangan dengan Tempo, Hendro mengaku menyukai kematangan, konsep dan keindahan.

Tapi dia menginginkan sesuatu yang lain. Hendro pun mengoleksi karya Nashar (1928-1994), perupa abstrakionis yang keras menolak komersialisasi. Nashar muda pernah menjadi murid Sindusarsono Sudjojono (1913-1986). Bapak Seni Lukis Indonesia itu menilai Nashar tak berbakat. Nashar disarankan bekerja kantoran atau menjadi polisi perkebunan

Tak hanya mengoleksi karya, Hendro menyelami tulisan-tulisan oleh maupun tentang Nashar. Dia menyelami sejarahnya. “Belum ada yang menyamai Nashar. Dari ‘abstrakisme’-nya, baik perupa muda maupun terdahulu, semua tumbang bila dibandingkan Nashar,” kata Hendro

Ada pula kolektor investor. Mereka menjadikan karya seni serupa saham di bursa efek. Membeli lukisan, menahannya dengan harapan nilainya terus naik. Tapi, seperti juga saham, investasi karya seni adalah seni tersendiri. Butuh insting dan pengetahuan untuk membidik calon aset yang tepat

Soal kolektor investor ini, kata Jim, tak bisa diamati dari segi bobot dan muatan. Tradisi barat, pada awalnya, menghargai karya seni seperti kolektor keris. “Ada keyakinan bahwa benda itu memiliki nilai-nilai tertentu, seperti jimat,” kata Jim. Inilah mulainya tradisi karya seni menjadi mahal.

Tapi, sekarang ini, harga karya seni bisa dipermainkan di pasar menjadi lebih tinggi. Seperti menggoreng saham di bursa. “Itu di luar komentar dan penilaian saya, sebab itu mengikuti hukum pasar,” kata Jim

Paul Wiersbinski, seniman Jerman, pernah membuat video berjudul Ivo Burokvic: the Life of the Fake Artist as a Young Business Model. Dalam video itu, Paul mendokumentasikan kegiatannya sebagai seniman palsu bernama Ivo Burokvic

Di sebuah pameran lelang. Paul mendaftar dengan nama Ivo, “Agar terdengar Eropa Barat dan agak eksentrik.” Berdasar info dari sebuah situs, foto sebuah sudut mal ia kirim ke Cina untuk dibuat versi lukisannya. Foto itu ditambahi efek Photoshop. Warna-warna dibuat bernuansa psychadelic. Biaya pelukisan dan pengirimannya 599 Euro.

Lukisan berjudul Spaceballs itu lalu dilelang. Pemandu lelang menyebut koleksi yang dilelang sebagai seleksi karya terbaik yang layak untuk investasi. “Ayo kita saksikan proses pelipatgandaan uang,” kata Paul di videonya. Dibuka di harga 250 Euro, Paul lalu mendapat bonus 700 Euro dari penjualan lukisannya. “Kita,” kata Paul, “hidup di zaman kerakusan.”

 

Membuka Diri Kepada Seni Rupa oleh IBNURUSYDI

Ikut mencerdaskan masyarakat dengan bacaan dan tulisan online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *