Referensi

Pengertian Magma Dan Proses Pembentukan Magma

Magma adalah suatu lelehan silikat bersuhu tinggi berada di dalam litosfer, yang terdiri dari ion-ion yang bergerak bebas, hablur yang mengapung di dalamnya, serta mengandung sejumlah bahan berwujud gas. Secara sederhana, pengertian magma adalah kumpulan lelehan batuan cair yang berpijar dan sangat panas bercampur air dan gas di dalam kerak bumi.

Lelehan tersebut diperkirakan terbentuk pada kedalaman berkisar sekitar 200 kilometer dibawah permukaan Bumi, terdiri terutama dari unsur-unsur yang kemudian membentuk mineral-mineral silikat. Dalam geologi dan astronomi, istilah silikat digunakan untuk menunjukkan jenis batu yang terdiri dari silicon dan oksigen (biasanya sebagai SiO 2 atau SiO 4), satu atau lebih logam, dan mungkin hidrogen. Sebagian besar dari kerak bumi terdiri dari batu-batu silikat. 

Pengertian Magma

Magma yang mempunyai berat-jenis lebih ringan dari batuan sekelilingnya, akan berusaha untuk naik melalui rekahan-rekahan yang ada dalam litosfer hingga akhirnya mampu mencapai permukaan Bumi. Apabila magma keluar, melalui kegiatan gunung-berapi dan mengalir diatas permukaan Bumi, ia akan dinamakan lava.

Magma ketika dalam perjalanannya naik menuju ke permukaan, dapat juga mulai kehilangan mobilitasnya ketika masih berada di dalam litosfer dan membentuk dapur-dapur magma sebelum mencapai permukaan. Dalam daur batuan dicantumkan bahwa batuan beku bersumber dari proses pendinginan dan penghabluran lelehan batuan di dalam Bumi yang disebut magma. Informasi tentang mengapa Indonesia Rawan Terhadap Bencana

Dalam keadaan seperti itu, magma akan membeku di tempat, dimana ion-ion di dalamnya akan mulai kehilangan gerak bebasnya kemudian menyusun diri, menghablur dan membentuk batuan beku. Namun dalam proses pembekuan tersebut, tidak seluruh bagian dari lelehan itu akan menghablur pada saat yang sama. Ada beberapa jenis mineral yang terbentuk lebih awal pada suhu yang tinggi dibanding dengan lainnya.

Proses Pembentukan Magma

Magma dalam kerak Bumi dapat terbentuk sebagai akibat dari perbenturan antara 2 (dua) lempeng litosfer, dimana salah satu dari lempeng yang berinteraksi itu menunjam dan menyusup kedalam astenosfer.

Sebagai akibat dari gesekan yang berlangsung antara kedua lempeng litosfer tersebut, maka akan terjadi peningkatan suhu dan tekanan, ditambah dengan penambahan air berasal dari sedimen-sedimen samudera akan disusul oleh proses peleburan sebagian dari Litosfer (lihat gambar).

Proses Pembentukan Magma

Sumber magma yang terjadi sebagai akibat dari peleburan tersebut akan menghasilkan magma yang bersusunan asam (kandungan unsur SiO2 lebih besar dari 55%). Magma yang bersusunan basa, adalah magma yang terjadi dan bersumber dari astenosfer. Magma seperti itu didapat di daerah-daerah yang mengalami gejala regangan yang dilanjutkan dengan pemisahan litosfer.

Berdasarkan sifat kimiawinya, batuan beku yang berasal dari magma dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) kelompok, yaitu:

  1. Kelompok batuan beku ultrabasa/ultramafic;
  2. Kelompok batuan beku basa;
  3. Kelompok batuan beku intermediate;
  4. Kelompok batuan beku asam.

Dengan demikian maka magma asal yang membentuk batuan-batuan tersebut diatas dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu magma basa, magma intermediate, dan magma asam.

Apakah mungkin magma itu hanya ada satu jenis saja?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada 2 cara untuk menjelaskan bagaimana batuan yang bersifat basa, intermediate, dan asam itu dapat terbentuk dari satu jenis magma saja, yaitu melalui proses Diferensiasi Magma dan proses Asimilasi Magma.

1. Diferensiasi Magma

Diferensiasi Magma adalah proses penurunan temperatur magma yang terjadi secara perlahan yang diikuti dengan terbentuknya mineral-mineral seperti yang ditunjukkan dalam deret reaksi Bowen. Pada penurunan temperatur magma maka mineral yang pertama kali yang akan terbentuk adalah mineral Olivine, kemudian dilanjutkan dengan Pyroxene, Hornblende, Biotite (Deret tidak kontinu). Pada deret yang kontinu, pembentukan mineral dimulai dengan terbentuknya mineral Ca-Plagioclase dan diakhiri dengan pembentukan Na-Plagioclase. Pada penurunan temperatur selanjutnya akan terbentuk mineral K-Feldspar(Orthoclase), kemudian dilanjutkan oleh Muscovite dan diakhiri dengan terbentuknya mineral Kuarsa (Quartz). Proses pembentukan mineral akibat proses diferensiasi magma dikenal juga sebagai Mineral Pembentuk Batuan (rock forming minerals).

Pembentukan batuan yang berkomposisi ultra basa, basa, intermediate, dan asam dapat terjadi melalui proses diferensiasi magma. Pada tahap awal penurunan temperatur magma, maka mineral-mineral yang akan terbentuk untuk pertama kalinya adalah Olivine, Pyroxene dan Ca-plagioklas dan sebagaimana diketahui bahwa mineral-mineral tersebut adalah merupakan mineral penyusun batuan ultra basa.

Dengan terbentuknya mineral-mineral Olivine, pyroxene, dan Ca-Plagioklas maka konsentrasi Larutan magma akan semakin bersifat basa hingga intermediate dan pada kondisi ini akan terbentuk mineral-mineral Amphibol, Biotite dan Plagioklas yang intermediate (Labradorite – Andesine) yang merupakan mineral pembentuk batuan Gabro (basa) dan Diorite (intermediate).

Dengan terbentuknya mineral-mineral tersebut diatas, maka sekarang konsentrasi magma menjadi semakin bersifat asam. Pada kondisi ini mulai terbentuk mineral-mineral K-Feldspar (Orthoclase), Na-Plagioklas (Albit), Muscovite, dan Kuarsa yang merupakan mineral-mineral penyusun batuan Granite dan Granodiorite (Proses diferensiasi magma ini dikenal dengan seri reaksi Bowen).

2. Asimilasi Magma

Asimilasi Magma adalah proses meleburnya batuan samping (migling) akibat naiknya magma ke arah permukaan dan proses ini dapat menyebabkan magma yang tadinya bersifat basa berubah menjadi asam karena komposisi batuan sampingnya lebih bersifat asam. Apabila magma asalnya bersifat asam sedangkan batuan sampingnya bersifat basa, maka batuan yang terbentuk umumnya dicirikan oleh adanya Xenolite (Xenolite adalah fragment batuan yang bersifat basa yang terdapat dalam batuan asam).

Pembentukan batuan yang berkomposisi ultrabasa, basa, intermediate, dan asam dapat juga terjadi apabila magma asal (magma basa) mengalami asimilasi dengan batuan sampingnya. Sebagai contoh suatu magma basa yang menerobos batuan samping yang berkomposisi asam maka akan terjadi asimilasi magma, dimana batuan samping akan melebur dengan larutan magma dan hal ini akan membuat konsentrasi magma menjadi bersifat intermediate hingga asam.

Dengan demikian maka batuan-batuan yang berkomposisi mineral intermediate maupun asam dapat terbentuk dari magma basa yang mengalami asimilasi dengan batuan sampingnya. Klasifikasi batuan beku dapat dilakukan berdasarkan kandungan mineralnya, kejadian/genesanya (plutonik, hypabisal, dan volkanik), komposisi kimia batuannya, dan indeks warna batuannya. Untuk berbagai keperluan klasifikasi, biasanya kandungan mineral dipakai untuk mengklasifikasi batuan dan merupakan cara yang paling mudah dalam menjelaskan batuan beku.

Animasi Magma dan Lava

 

Referensi: NOOR, Djauhari. Pengantar Geologi, Yogyakarta: Deepublish, 2014

Ikut mencerdaskan masyarakat dengan bacaan dan tulisan online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *