Budaya

Transportasi Umum Perkotaan di Tiongkok

Sejak peristiwa Revolusi Kebudayaan Besar di Tiongkok pada tahun 1966, Mao Zedong dan pemerintah pusat Republik Rakyat Tiongkok pada saat itu mencanangkan perubahan besar-besaran di segala sisi. Salah satu perubahan besar yang terjadi adalah akselerasi pembangunan infrastruktur di seluruh penjuru negeri Tiongkok. Pada saat revolusi itu terjadi, populasi Tiongkok masih berkisar diangka 694 juta jiwa, namun jumlah tersebut merupakan populasi terbesar di dunia pada masa itu.

Jumlah populasi yang besar menuntut kerja keras para pemimpin RRT yang kala itu memulai pemerintahan yang masih carut-marut akibat konflik yang tidak berkesudahan. Salah satu upaya keras yang dilakukan adalah untuk memperbaiki transportasi, baik sarana maupun prasarananya. Transportasi merupakan hal yang mutlak untuk percepatan perekonomian rakyat Tiongkok dan kemudahan mobilisasi individu, termasuk para pejabat pemerintahan untuk menjalankan tugas-tugas mereka dengan baik.

TRANSPORTASI DI TIONGKOK

Masyarakat Tiongkok pada umumnya merupakan masyarakat yang sensitif terhadap biaya-biaya yang dikeluarkan dalam keseharian mereka. Perihal melakukan upaya untuk berpindah dari suatu lokasi ke lokasi lainnya, masyarakat yang tidak memiliki pendapatan terlalu tinggi akan menggunakan alat transportasi dengan biaya termurah, bahkan berjalan kaki bila perlu. Oleh karena itu pemerintah Tiongkok senantiasa peduli dan mempertimbangkan baik-baik aspek sensitivitas terhadap harga di kalangan rakyatnya. Pemerintah Tiongkok juga melakukan distribusi terhadap transportasi dan fasilitas umum, sehingga warga dari berbagai level pendapatan dapat mengaksesnya.

 

Transportasi Di Tiongkok

Berbicara mengedepankan transportasi umum, ada baiknya untuk membicarakan prioritas. Prioritas yang dilakukan senantiasa untuk mendapatkan hasil optimum dari suatu perencanaan. Prioritas yang baik dalam pemberesan transportasi adalah transportasi urban. Inter-koneksi dan antar-koneksi moda transportasi sangat diperhatikan di kota-kota di Tiongkok. Wilayah perkotaan yang memiliki sarana yang baik dalam transportasi akan membawa dampak signifikan bagi kelancaran aktivitas perekonomian yang notabenenya banyak terjadi di kawasan urban.

Indonesia sebagai negara berkembang patut meniru langkah pemerintah Tiongkok dalam mengedepankan penyediaan transportasi sebagai langkah agar rakyat merasa bahwa pemerintah benar-benar melayani seluruh rakyatnya, seperti apa yang diamanatkan dalam konstitusi. Inspirasiinspirasi mengenai transportasi urban dapat melihat negara yang terletak tidak jauh dari Indonesia ke Tiongkok.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 1,3 milyar jiwa, Tiongkok tidak salah kalau disebut sebagai ahlinya untuk mengelola urusan-urusan kolosal. Tidak ada negara lain yang mampu menandingi Tiongkok dalam hal menjaga kondusifitas dalam negeri seraya mengedepankan pelaksanaan pelayanan-pelayanan umum yang bertujuan menyejahterakan rakyat luas. Salah satu aspek dari pelayanan umum yang mencolok ketika mencari inspirasi kebaikan dari Tiongkok adalah kemahiran mengelola transportasi. Transportasi merupakan nadi utama dari perekonomian suatu negara, sebab transportasi menjadi penentu bagi kelancaran mobilisasi fisik baik orang maupun barang.

Manajemen transportasi mencakup aspek yang cukup luas dimana infrastruktur, keamanan, interkoneksi, serta prasarana-prasarana pendukung lainnya turut memiliki andil dalam terciptanya manajemen transportasi yang baik. Manajemen transportasi termasuk dalam salah satu elemen dari Kebijakan Publik. Pencapaian dalam pengelolaan transportasi yang efektif dan efisien juga menunjukkan kualitas kepemimpinan dari pemerintah suatu negara. Transportasi publik merupakan “kemewahan” mendasar yang harus bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat. Pemerintah Tiongkok mengerti betul bahwa untuk menjaga stabilitas internal negara harus berorientasi pada perbaikan-perbaikan untuk kelancaran perekonomian

Selain itu, aspek transportasi yang dibangun dengan baik akan mencegah kericuhan dan kekisruhan dalam negeri akibat kelalaian-kelalaian manajemen transportasi. Ketika sarana-sarana transportasi tersedia dengan baik, warga yang memiliki pekerjaan atau keseharian beraktivitas tidak lagi perlu memikirkan hal-hal lainnya. Kenyataan bahwa manajemen transportasi yang kurang baik agaknya sangat terasa di Indonesia. Dengan kondisi luas jalan yang tidak sebanding dengan jumlah kendaraan menimbulkan kemacetan dimana-mana.

Misalnya, ketika macet seseorang akan merasa bahwa ia telah menyia-nyiakan waktunya hanya untuk berhenti di pertengahan jalan menuju tempat ia bekerja. Ketika sampai di tempat kerja, suasana suntuk dan psikologis yang tidak kondusif akan terbawa sampai nanti pulang dari lokasi kerja. Bayangkan bahwa individu pekerja yang mengalami rasa suntuk dan emosional ketika bekerja akan membawa pada produktivitas yang menurun. Perumpamaan tersebut bisa dikalikan dengan berapa jumlah para commuter di kota-kota besar di Indonesia, sudah berapa banyak “ongkos” produktivitas yang hilang; dimana hal tersebut akan mempengaruhi secara akumulatif pada penurunan kinerja perekonomian Indonesia.

Aspek transportasi yang dicoba untuk diangkat di sini adalah transportasi urban. Transportasi yang mengedepankan pelayanan untuk kaum urban bukanlah sesuatu yang buruk. Justru di situlah dapat dilihat bagaimana peletakan prioritas kebijakan publik suatu negara.

Perbaikan dan peningkatan sarana-sarana yang berkenaan dengan transportasi di perkotaan akan menjaga kelancaran denyut nadi perekonomian dan aktivitas-aktivitas prioritas lain seperti pemerintahan, dan pendidikan. Pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang bertujuan meningkatkan pelayanan transportasi umum di wilayah perkotaan juga menjadikan transportasi sebagai parameter utama dari kesan positif yang dapat dirasakan oleh orang asing. Bukan perihal senangnya warga asing untuk beraktivitas, namun aspek-aspek kenyamanan dan keamanan juga harus senantiasa menjadi faktor pemikiran landasan kebijakan publik. Dengan begitu warga asing akan merasa puas dengan apa yang terjadi di Tiongkok dan menyebarkan kabar positif ini kepada khalayak global bahwa Tiongkok merupakan lokasi yang kondusif untuk melakukan kegiatan-kegiatan susulan seperti investasi, pendidikan, tinggal, dan pariwisata.

Ketika menyadari akan pentingnya transportasi bagi suatu negara, maka pertanyaan yang perlu dijawab pertama kali adalah: apakah kebijakan-kebijakan publik yang diterapkan di Indonesia selama ini bertujuan untuk memajukan kesejahteraan umum? Mari bersama membangun bangsa, dengan terlebih dahulu menyadari pentingnya pengelolaan transportasi yang baik. Manajemen transportasi yang lebih baik, kondisi Negara lebih baik.

Moda Transportasi

Keseharian Fakta-fakta umum yang bisa dijadikan refleksi dan inspirasi kelola transportasi dari Tiongkok adalah sebagai berikut:

  1. Indeks kepadatan kendaraan di Tiongkok hanya mencapai 1,77 per km2, 84% lebih lapang dari indeks kepadatan di Indonesia.
  2. Jumlah total jaringan jalan raya di Tiongkok adalah sepanjang 3,58 milyar kilometer. Angka ini 9 kali jauh lebih besar dari total jaringan jalan raya yang ada di Indonesia secara keseluruhan.
  3. Dengan total 86.000 kilometer panjang rel kereta di Tiongkok menunjukkan bahwa kereta baik itu kereta api, MRT, maupun Gaotie (kereta peluru) adalah sarana transportasi yang diperhatikan oleh pemerintah guna pelayanan umum.
  4. Investasi di bidang transportasi dengan partisipasi swasta di Tiongkok memiliki figur setara dengan $ 1,32 per $ 1.000 total GDP Tiongkok.
  5. Pemerintah DKI Jakarta sedang bekerja sama dengan pemerintah Kota Chong qing di Tiongkok dalam rangka transfer skema transportasi yang baik. Namun nampaknya belum terlihat betul hasil dari kerjasama tersebut.
  6. Tiongkok sudah sejak lama menggunakan kartu transportasi elektronik yang tergolong tidak rumit untuk membelinya. Tidak seperti di Indonesia yang terlalu banyak merchant untuk kartu transportasi elektronik yang akan membingungkan para pengguna jasa transportasi umum. Satu kartu transportasi dapat digunakan untuk penggunaan baik bus umum maupun MRT/subway.
  7. Dalam era informasi digital saat ini, tak pelak penggunaan sarana komunikasi seluler pintar juga menjadi primadona dalam kemudahan bertransportasi/berkendara. Cukup dengan membuka aplikasi tertentu, seseorang yang ingin menuju satu lokasi dapat terinformasi dengan jalur mana yang baik untuk digunakan, nomor bus yang cepat untuk mencapai tujuan, atau line subway berapa yang harus diambil. Bahkan saat ini di kota-kota besar di Tiongkok sudah memungkinkan untuk memanggil taksi via aplikasi di telepon genggam pintar.

Ada enam moda transportasi utama yang digunakan oleh penduduk perkotaan di Tiongkok yang digunakan dalam keseharian aktivitas mereka, yaitu:

1. Berjalan kaki

Berjalan kaki merupakan moda transportasi yang paling sering dijumpai di Tiongkok. Masyarakat Tiongkok sangat peduli akan kesehatan fisik mereka. Jadi, apabila jarak yang dituju kurang dari satu kilometer, mereka akan dengan senang hati untuk berjalan kaki. Selain karena kesehatan, jalan kaki tidak mengeluarkan biaya apapun. Data yang berhasil dihimpun menunjukkan bahwa jarak rata-rata commuting masyarakat urban di Tiongkok adalah sekitar 700 meter. Trotoar yang dibangun untuk pejalan kaki juga dapat digunakan oleh para penyandang tuna netra.

2. Bersepeda

Bersepeda juga merupakan salah satu alternatif transportasi yang kerap kali menjadi andalan publik Tiongkok. Data menunjukkan bahwa sepertiga penduduk Tiongkok bersepeda dalam keseharaiannya. Sehat, tentu saja; harga sepeda di Tiongkok untuk keperluan sehari-hari juga tidak mahal, sehingga sepeda menjadi favorit alternatif transportasi warga di Tiongkok. Di kota-kota besar Tiongkok seperti Beijing, Shanghai, dan Guangzhou terdapat sepeda-sepeda yang bisa dipakai oleh khalayak dengan harga murah. Sepeda-sepeda tersebut biasanya di parkir di dekat stasiun subway atau dekat dengan pemukiman warga. Selain sepeda biasa, masyarakat Tiongkok kerap menggunakan sepeda listrik untuk bepergian. Kecepatan laju sepeda listrik tidak secepat sepeda motor, oleh karena itu aman untuk dikendarai. Kecepatan sepeda listrik yang diperbolehkan untuk melaju maksimal mencapai 15 km/jam.

3. Motor/ motor listrik

Sedikit sekali warga Tiongkok yang menggunakan motor seperti yang biasa ditemukan di Indonesia. Alasan yang paling utama adalah masalah keamanan berkendara. Sepeda motor merupakan moda transportasi yang paling berbahaya dibanding dengan moda transportasi lainnya. Ketika pengendara malas menggunakan helm pelindung dan aksesoris keselamatan lain, maka kerawanan kecelakaan dalam berkendara motor sangatlah tinggi. Untuk segi kebijakan yang paling ekstrem, penggunaan motor bensin di Kota Guangzhou sama sekali dilarang. Di Beijing sendiri sangat sedikit ditemukan pengendara motor. Pemerintah Tiongkok melindungi segenap penduduknya dengan mengaplikasikan kebijakan keamanan dalam berkendara, salah satunya pengetatan penggunaan sepeda motor. Dengan demikian nyawa warga Tiongkok tidak sia-sia karena kecelakaan berkendara motor. Bahkan sepeda motor dilarang untuk digunakan di dalam lingkungan sekolah atau universitas demi menjamin keselamatan para pelajar.

4. Bus umum

Keseharian warga biasa di Tiongkok pasti tidak lepas dari menggunakan bus umum. Sama seperti di Indonesia, bus umum juga menjadi alternatif transportasi publik yang murah. Segi positif dari sistem kelola transportasi massal di Tiongkok adalah dalam segi kepraktisan dan inter-koneksinya. Bus-bus umum seluruhnya terhubung dengan stasiun atau penghubung jenis moda transportasi lain. Kejelasan penulisan trayek tujuan bus umum di halte-halte bus umum membuat segalanya menjadi jelas. Apalagi untuk warga asing yang notabenenya tidak hapal trayek bus umum. Bus-bus untuk tujuan tertentu juga dapat diakses oleh para penyandang cacat dengan kursi roda.

Bus-bus umum di Indonesia tidak menyediakan pengarahan yang jelas soal halte-halte tujuan, hal ini sangat menyulitkan penggunaan sarana transportasi umum. Bus umum yang memiliki kejelasan dan sistem interkoneksi yang baik masih terbatas Trans-Jakarta di Kota Jakarta. Aturan mengenai transportasi umum sangatlah ketat dan jelas. Bus-bus umum tidak diperkenankan untuk menaikkan/ menurunkan penumpang kecuali di halte-halte yang sudah ditentukan sebelumnya sehingga keamanan berkendara dan keteraturan lalu-lintas sangatlah terasa.

5. Subway

Subway atau kereta bawah tanah/Mass Rapid Transit sudah dapat ditemukan di negara-negara maju. Moda transportasi ini wajib adanya apabila sistem kelola transportasi berniat untuk mengedepankan kepentingan umum dan masyarakat pada keseluruhannya. Kelebihan penggunaan kereta bawah tanah terletak pada ketepatan waktu yang menjadi andalan bagi para kaum urban dalam keseharian aktivitas mereka.

Inti dari kesuksesan pembangunan jaringan subway/ metro di Tiongkok adalah kemudahan pembebasan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Di Kota Beijing sendiri setiap tahunnya rata-rata terdapat 2 ‘subway line’ baru yang dibangun. Hal ini serta-merta bahwa pemerintah Tiongkok sadar dan sangat peduli bahwa transportasi publik merupakan nadi perekonomian dan dibangun demi kemaslahatan publik.

Untuk masalah keamanan dan kenyamanan, kereta bawah tanah Tiongkok hampir mirip dengan keamanan yang diterapkan di bandar udara. Seperti penggunakan mesin pemindai x-ray di 99% dari total stasiun subway yang ada di Tiongkok, bahkan ketika kita membawa air putih ke dalam stasiun wajib untuk diminum satu teguk guna menunjukkan bahwa air yang dibawa benar merupakan air putih dan bukan bahan kimia berbahaya. Pada stasiun tertentu terdapat fasilitas yang dapat diakses oleh penyandang cacat dengan kursi roda.

6. Kereta peluru/ Gaotie

Pesaing Shinkansen Jepang yang ada di Tiongkok bernama Gaotie. Gaotie sendiri berarti “kereta tinggi”, yang bermakna kereta yang berkecepatan tinggi. Gaotie efektif beroperasi pada tahun 2008 dimana kecepatan standar maksimal adalah 300 km/jam, hal ini guna mengantisipasi kecelakaan yang pernah terjadi ketika masa uji coba Gaotie dengan kecepatan hampir 400 km/jam pada awal-awal masa operasinya. Masalah kecepatan waktu perjalanan dapat dibuktikan dengan perjalanan dari kota Beijing menunju Guangzhou yang berjarak 2200 km dapat ditempuh dengan waktu 8 jam dengan beberapa kali pemberhentian.

Pembangunan Gaotie serta merta merupakan modernisasi dari moda transportasi di Tiongkok. Dengan harga tiket yang bisa 3 kali lipat dari menggunakan kereta biasa, Gaotie mengutamakan ketepatan waktu, kecepatan, dan kenyamanan, yang tidak ditemukan di kereta-kereta biasa. 90 persen kota-kota besar di Tiongkok sudah bisa dituju dengan Gaotie ini. Gaotie juga merupakan alternatif transportasi yang baik ketika cuaca buruk yang tidak memungkinkan pesawat untuk terbang, atau bagi mereka yang mabuk udara.

Satu hal yang patut menjadi inspirasi kelola transportasi Gaotie ini adalah pembelian tiket yang tidak bisa dilakukan dengan menggunakan calo tiket. Dalam pembelian tiket, para penumpang harus menggunakan kartu identitas yang dalam hal ini telah menggunakan e-KTP. Hal ini menjamin kesamaan harga dan kejelasan informasi jadwal kereta, nomor kursi, dan lokasi tujuan sehingga para penumpang yang menggunakan jasa Gaotie dapat merasa aman dan nyaman.

Penutup

想致富先修路 Xiăng zhìfù, xiān xiūlù. Ungkapan dalam Bahasa Mandarin ini berarti “Jalan yang baik menjadi penentu lancarnya rezeki”. Inilah yang menjadi cerminan dasar betapa pemerintah Tiongkok mengerti dan percaya betul bahwa transportasi memiliki peranan penting untuk kesejahteraan rakyat banyak.

Tiongkok memang belum menjadi Negara yang paling maju pada saat ini. Hanya saja perlu diingat bahwa pada masa lampau Tiongkok pernah mengalami masa-masa kejayaan dalam berbagai bidang. Dengan melihat dan mengetahui sejarah, Tiongkok akan kembali merebut hegemoni bangsa yang memiliki capaian-capaian dengan akselerasi luar biasa. Tentu saja hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan-kemajuan tersebut bertujuan untuk memajukan kesejahteran rakyatnya.

Transportasi merupakan sesuatu yang akan niscaya tidak pernah lepas dari kehidupan manusia, bahkan kehidupan mikroorganisme sekalipun. Untuk itulah pentingnya pengelolaan transportasi yang baik harus bisa diaplikasikan oleh pihak yang memiliki kewenangan, dan itu semua bisa dicontoh dari Tiongkok.

Sumber:

  • INSPIRASI KELOLA TRANSPORTASI DARI TIONGKOK; TRANSPORTASI UMUM PERKOTAAN
  • Oleh: Fathan Sembiring & Dany Wahyudi (PPI Tiongkok)

Ikut mencerdaskan masyarakat dengan bacaan dan tulisan online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *