Lingkungan

Tarsius Si Monyet Hantu Langka dari Bitung Manado

Tarsius, atau dalam bahasa Inggris disebut Tarsier, merupakan primata langka dari genus Tarsiidae yang memiliki tubuh kecil dengan mata yang sangat besar yang ada di Hutan Lindung Tangkoko, Taman Margasatwa Tandurusa yang terletak di Kota Bitung, sekitar 45 km sebelah timur Kota Manado.

Bagi kebanyakan orang, nama Tarsius lebih sulit diingat dibandingkan dengan nama binatang lainnya yang biasa hidup di wilayah Indonesia. Oleh sebab itu, Tarsius sering disebut sebagai monyet hantu.

Tarsius Bitung Manado

 

Tarsius Monyet Hantu dari Bitung

Untuk melihat kehidupan  Tarsius dalam kondisi normal di habitatnya, hanya ada di Hutan Lindung Tangkoko, Bitung, Manado, Sulawesi Utara. Namun perlu kesabaran ekstra jika ingin mengabadikan makhluk unik yang termasuk langka tersebut di Taman Margasatwa Tandurusa ini.

Jika kita berharap dapat melihat hewan imut ini berlompatan di atas pepohonan seperti monyet, bersiaplah untuk kecewa. Tarsius hanya dapat ditemukan bergantung di pohon pada ketinggian sekitar 3 hingga 6,5 kaki atau sekitar 1 meter hingga 2 meter dari atas tanah dengan perlindungan dedaunan sebagai tempat tidurnya.

Sebagai binatang nokturnal, Tarsius diam seperti boneka di siang hari dan sangat aktif di malam hari. Pandangan matanya pun lebih tajam di malam hari seperti halnya binatang malam lainnya meskipun memiliki sedikit perbedaan. Perbedaan antara Tarsius dan binatang malam lainnya adalah hewan ini tidak memiliki daerah pemantul cahaya di matanya

Tarsius (Tarsiidae) memiliki bulu yang lembut seperti beludru, biasanya berwarna cokelat abu-abu, cokelat muda, atau kuning-jingga muda. Tarsius memiliki bola mata masing-masing berdiameter sekitar 16 milimeter, ukuran yang sama dengan seluruh otaknya. Walaupun tubuhnya super mungil, kepalanya dapat berputar 180 derajat seperti burung hantu. Kemampuannya untuk melihat benda dengan hanya memutar kepalanya saja membuat Tarsius menjadi hewan yang tidak banyak bergerak, bahkan untuk menangkap mangsanya.

Namun jangan tertipu. Hewan ini merupakan primata karnivora sejati. Apapun keadaannya, Tarsius tidak makan tanaman. Hewan mini ini hanya makan serangga, reptil seperti kadal dan ular, kodok, burung, dan bahkan kelelawar. Meskipun tarsius merupakan hewan yang kecil dan imut, mereka merupakan predator yang sangat serius. Mereka memburu dalam diam, mencari kesempatan mangsa mendekatinya, kemudian menangkapnya dengan cepat di udara seperti menangkap burung atau kelelawar.

Panjang kepala dan badan tarsius sekitar 4-6 inchi, sementara itu kaki atas dan telapak kakinya memiliki panjang dua kali badannya. Hewan ini juga memiliki buntut tanpa bulu yang sangat panjang, sekitar 7,8 hingga 9,8 inchi. Jari jemarinya sangat panjang yang berfungsi untuk meraih dan hinggap di dahan atau ranting pohon. Jari ketiganya sama panjangnya dengan seluruh panjang lengan atasnya. Keadaan anatomi tubuhnya yang unik menjadikan Tarsius sebagai pemanjat vertikal tanpa jatuh karena berpegang erat dan pelompat yang andal. Hewan ini dapat melompat 40 kali panjang badannya dan terbang sekitar 16 kaki dalam sekali lompat.

Hal lain yang sangat mengagumkan adalah Tarsius dikenal sangat setia pada pasangannya. Meskipun binatang malam, ia merupakan monogami yang seumur hidupnya hanya memiliki satu pasangan. Apabila pasangannya mati, Tarsius tidak akan kawin lagi dan bertahan dengan kesendiriannya hingga ajal menjemputnya. Usia hewan ini tidaklah panjang, hanya sekitar 15 tahun saja.

Namun demikian, usia pendek dan kesetiaannya tersebut disinyalir menjadi faktor yang membuat Tarsius terancam keberadaannya di dunia. Tarsius juga hewan yang mudah stres. Sehingga apabila ditaruh di dalam kandang terlalu lama, hewan ini akan melukai bahkan membunuh dirinya sendiri. Begitu pula jika bertemu dengan banyak manusia. Karena itulah, di Taman Margasatwa Tandurusa, Tarsius hanya menetap di kandang selama dua bulan. Setelah itu, ia akan kembali dilepas ke Hutan Lindung Tangkoko dan digantikan dengan Tarsius lainnya.

Berwisata ke Manado, Sulawesi Utara, destinasi utama kita biasanya Bunaken dan wisata kuliner ekstrim. Padahal, di provinsi ini, kita bisa melihat dari dekat salah satu hewan khas Manado bernama Tarsius atau biasa disebut monyet hantu. Salah satu lokasi yang bisa dikunjungi untuk melihat adalah Hutan Lindung Tangkoko, Taman Margasatwa Tandurusa atau sekitar 1 jam perjalanan dari kota Manado.

Ada hal menyedihkan yang diceritakan penjaga taman margasatwa itu. Tarsius kadang diburu oleh masyarakat setempat untuk dijadikan ‘cemilan’ saat pesta miras. Karena itu, untuk menghindari kepunahan tarsius, konservasi habitat adalah satu-satunya harapan. Di dunia, hanya ada dua tempat saja yang menjadi tempat konservasi, ekowisata, dan pelaksanaan riset Tarsius. Yaitu, di Hutan Lindung Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara dan di Pulau Bohol, Filipina. Di dua tempat inilah kita bisa menyaksikan hewan unik ini secara langsung, mudah, dan teratur.

 

Tarsius Primata Langka dari Bitung Manado – Literasi Publik

Loading...
loading...

Ikut mencerdaskan masyarakat dengan bacaan dan tulisan online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *