Biomedik

Ketakutan Yang Berlebihan Terhadap Penyakit Difteri

Semenjak banyak pemberitaan tentang diphtheria atau difteri, muncul phobia, ketakutan yang berlebihan di sebagian masyarakat. Apa sih difteri itu? Dan bagaimana supaya terhindar dari phobia terhadap difteri?

Penyakit Difteri

Difteri adalah infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, dan kulit. Penyakit ini sangat menular, dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa. Bakteri difteri menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel mati akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Racun yang dihasilkan berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.

Sementara itu, Difteri bisa tidak menunjukkan gejala apapun, sehingga penderita tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi. Sudah ada vaksin difteri untuk mencegah penularannya, namun saat ini di Indonesia terjadi peningkatan kasus.

Data yang dirilis oleh Pos Kedaruratan Kesehatan Masyarakat atau Public Health Emergency Operating Center (PHEOC) Kementerian Kesehatan, melihat kasus difteri terdeteksi di 23 provinsi per November 2017.

Penularan Difteri

Manusia adalah satu satunya reservoir Corynebacterium diphtheriae. Yang paling banyak terjadi adalah penularan secara droplet (percikan ludah) dari batuk, bersin, muntah, melalui alat makan, atau kontak langsung dari lesi kulit. Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin, atau batuk. Selain itu, penularan dapat terjadi melalui barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.

Gejala dan Tanda Difteri

Tanda dan gejala berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bagian atas (terutama pada selaput mukosafaring, laring, tonsil, hidung dan juga kulit), adanya nyeri tenggorok , nyeri menelan, demam tidak tinggi (kurang dari 38.5o C), dan ditemui adanya pseudomembran putih/keabu-abuan /kehitaman di tonsil, faring atau laring yang tak mudah lepas, serta berdarah apabila diangkat. Pada keadaan lebih berat dapat ditandai dengan kesuiltan menelan, sesak nafas, stridor dan pembengkakan leher yang tampak seperti leher sapi (bullneck). Kematian biasanya terjadi karena sumbatan jalan nafas, kerusakan otot jantung, serta kelainan susunan saraf pusat dan ginjal.

Apabila tidak diobati, dan penderita tidak mempunyai kekebalan, angka kematian adalah sekitar 50%, sedangkan dengan terapi angka kematiannya sekitar 10%, (CDC Manual for the Surveillans of Vaccine Preventable Diseases, 2017). Angka kematian Difteri rata-rata 5-10% pada anak kurang 5 tahun dan 20% pada dewasa (diatas 40 tahun) (CDC Atlanta,2016).

Diagnosis dan Pengobatan Difteri Diagnosis dapat ditegakkan dimulai dari anamnesa, dilanjutkan dengan pengambilan sampel di tenggorokan, hidung atau ulkus di kulit (bila ada kecurigaan) untuk diperiksa di laboratorium

Apabila diduga kuat tertular difteri, dokter akan segera memulai pengobatan, bahkan sebelum ada hasil laboratorium. Perawatan dianjurkan di ruang isolasi di rumah sakit. Selanjutnya diberikan pengobatan dengan 2 jenis obat, yaitu antibiotik dan antitoksin. Penderita kemudian akan menjalani pemeriksaan darah di laboratorium. Jika bakteri difteri masih ditemukan dalam tubuh pasien, dokter akan melanjutkan penggunaan antibiotik selama 10 hari. Pemberian antitoksin diberikan dimulai dengan dosis rendah dan perlahan ditingkatkan dengan melihat perkembangan kondisi pasien. Untuk pasien dengan kesulitan bernapas dianjurkan untuk proses pengangkatan membran. Pasien dengan gejala ulkus di kulit, dianjurkan untuk membersihkan bisul dengan sabun dan air dengan seksama.

Selain penderita, orang-orang yang berada di dekatnya juga disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena penyakit ini sangat mudah menular, untuk menjalani tes dan memberikan antibiotika, serta vaksin bila diperlukan.

Imunisasi Lengkap Mencegah Penyakit Difteri

Penyakit Difteri dapat dicegah dengan imunisasi lengkap, dengan jadwal pemberian sesuai usia. Perlindungan optimal terhadap difteri pada masyarakat dapat dicapai dengan cakupan imunisasi rutin, menjaga kualitas vaksin sejak pengiriman, serta penyimpanan hingga sampai ke sasaran.

Imunisasi Penyakit Difteri

Nah sekarang apakah perlu phobia pada difteri? Takut yang berlebihan tentu perlu dihindari. Paling penting adalah menjaga daya tahan tubuh. Bisa dengan menjaga asupan gizi, cukup istirahat sehingga tubuh dapat menyiapkan tameng untuk menghadapi bakteri pemicu difteri. Agar daya tahan semakin lengkap, imunisasi perlu dilakukan. Memberikan vaksin dasar membantu daya tubuh semakin tangguh, sehingga tidak perlu keluar rumah dengan perasaan takut apalagi takut berlebihan.

Sumber : Buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Difteri Edisi Pertama Tahun 2017

 

Penyakit Difteri – Biomedik

Ikut mencerdaskan masyarakat dengan bacaan dan tulisan online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *